Selasa, 23 Agustus 2016

Profil Nagari dan Adat Salingka Nagari Magek, Kabupaten Agam





Kenagarian Magek adalah bahagian dari Pemerintahan Kabupaten Agam yang tidak dapat dipisahkan dari suatu keistimewaan Adat Istiadatnya yang tidak lakang di paneh dan tak lapuak dihujan. Tingkah laku dan perbuatan masyarakatnya dari masa ke masa tetap dalam kandungan Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabulah.  

Nagari Magek yang berjarak tempuh dari Kota Bukitinggi + 13 Km. yang diapit beberapa Nagari dan Kecamatan dengan batas-batasnya sbb. 

  • Ke Barat dengan Kenagarian Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang
  • Ke Timur dengan Kenagarian Kamang Hilir Kecamatan Kamang Magek
  • Ke Utara dengan Kenagarian Kamang Mudiak Kecamatan Kamang Magek
  • Ke Selatan dengan Kenagarian Bungo Koto Tuo Kecamatan Baso

Kenagarian Magek merupakan bagian dari kecamatan Kamang Magek yang terdiri dari hamparan yang membujur dari barat laut ke tenggara, tidak ada bukit-bukit dan pegunungan. Luas Nagari ini keseluruhanya + 703 ha., sedangkan 443 ha. Diantara keseluruhanya adalah luas persawahan rakyat. Kenagarian ini mempunyai ketinggian + 950 m. dari permukaan laut yang keadaan tanahnya subur dan sangat cocok untuk areal pertanian. Juga terdapat dua aliran sungai yang sangat membantu dalam kesuburan lahan pertanian.


Nagari magek berpenduduk 4623 orang  terbagi atas 16 Jorong dan dari 16 Jorong tersebut dihimpun menjadi 5 (lima) Sidang. Disetiap Sidang terdapat 1 (satu) Masjid antara lain :

1. Sidang Tigo Lurah terdapat Masjid Darussalam

Yang terdiri dari Jorong Koto Kaciak – Koto Marapak

2. Sidang Surau Panjang terdapat Masjid Istiqamah

Yang terdiri dari Jorong Kampung Bawah – Kampung Tangah – Guguak Pincuran – Pakan Ahad

3. Sidang Suaru Bacamin Terdapat Masjid Tawakkal

Yang terdiri dari Jorong Lurah Ateh – Jr.Lurah Bawah – Jr.Simpang Kacang

4. Sidang Kasiak Terdapat Masjid Al Jihad

Yang terdiri dari Jorong Kasiak – Jr.Sawah Ladang – Jr. Kubang

5. Sidang Ujung terdapat Masjid Al Manar

Yang terdiri dari Jorong Gatah – Jr. Cubadak – Jr. Ambacang – Jr. Pulai


Masyarakat Nagari Magek terdiri dari 7 suku antara lain:                            

Piliang - Jambak - Melayu- Koto - Sikumbang - Bicu – Tanjuang. Ketujuh suku inilah yang ikut bersama sama mulai merambah dan manaruko sehingga terbentuknya sebuah Nagari  yang bernama Nagari MAGEK. Mungkin juga pengambilan nama untuk nagari ini disebabkan nenek moyang dahulu turun dari suatu Nagari Padang Magek di Kecamatan Baso.

Jumlah keseluruhan Datuak yang hidup saat itu adalah 268   dengan rekapitulasi sebagai berikut:

  • Suku Pili          terdiri dari        82 orang
  • Suku Jambak        terdiri dari           73 orang
  • Suku Malayu        terdiri dari           45 orang
  • Suku Sikumbang     terdiri dari           27 orang
  • Suku Koto          terdiri dari           20 orang
  • Suku Bicu          terdiri dari           17 orang
  • Suku Tanjung       terdiri dari           4   orang

                                  Jumlah  :   268 orang

Turunan Adat yang diawarisi dari dahulu di Kenagarian Magek adalah memakai sistem Kelarasan Adat Koto Piliang  . Ditandai dengan adanya bangunan Rumah Gadang yang di beri ba Anjuang seperti yang terdapat di Jorong Guguak Pincuran Rumah Gadang Datuak Bandaro Kayo yang masih terawat dengan baik setelah beberapa kali adanya renofasi dibeberapa bagian.

Begitu juga terhadap pangkat masing-masing Penghulu yang mempunyai tingkatan, penghulu yang di bagi menjadi beberapa tingkatan di setiap suku diantaranya : Nan Saparuik , Nan Ampek Janjang , Nan baindu dan Nan Ba Basa 4 Balai (Kepala Suku Pucuak).Setiap suku di Nagari Magek terdapat seorang penghulu dengan tingkatan Basa 4 balai yang merupakan Penghulu-Suku-Pucuak. Penghulu Suku Pucuak ini mempunyai tongkat disebut Nan Ampek Janjang /Ampek Inyiak  dan ada yang Limo Inyiak , Masing masing  yang Ampek janjang mempunyai lagi beberapa Penghulu dibawahnya yang disebut yang Baparuik dan kesemuanya bergelar Datuak. Namun pelaksanaan adat Salingka Nagari di sesuaikan dengan kondisi dan tuntutan pada masa itu sesuai menurut adat bahwa  : Adat babuhua Sinta , Syarak Babuhua Mati. 

(Pengurus KAN) 

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Sapangatahuan Ambo SIDANG KAMI
    NAMO NYO SIDANG LURAH ...
    MASJID NYO DULU IYO SURAU BACAMIN
    SABALUM ITU BANAMO SURAU RAWANG
    MAKO NYO BANAMO SURAU BACAMIN
    SABAB WAKTU ITU SURAU YG JENDELA
    NYO PAKAI KACO NAN BISA UTK BACAMIN
    ADOLAH SURAU RAWANG ..
    MAKO LAKEAK LAH NAMO NYO JADI
    SURAU BACAMIN ... NAN TALATAK DI
    SIDANG LURAH ...ITU LAH SEJARAH NAN
    AMBO DAPEAK / DANGA ..
    KALAU AMBO SALAH MOHON DI MAAF KAN

    BalasHapus